Kamis, 03 Februari 2011

Words=Feeling X-pression

Berbicara, merupakan kegiatan yg sering bahkan selalu kita lakukan setiap hari. Kita berbicara dengan indra pengecap [mulut] yg terangkaikan dari kata-kata. Bahkan sampai seringnya berbicara orang ngga akan sadar sudah berapa kali dia bicara dalam satu hari, sudah berapa banyak kata yg dia gunakan bwt bicara, apalagi sudah berapa banyak huruf yg dia gunakan untuk merangkai kata-kata tersebut. Emangnya apa ada orang yg mau ngitung udah berapa kali dia bicara???
Tapi bukan masalah berbicara yg mau saya tulis di sini, melainkan masalah kata yg dipakai bwt bicara. Sebenernya saya cuma iseng-iseng aja tiba-tiba ada ide muncul tuiingg..! yg mendorong saya bwt nulis ginian. Kadang saya mikir, ada benernya juga kalo kata itu bisa diartikan sebagai ungkapan perasaan seseorang. Orang kalo mau bicara pasti dirasakan dulu, dia mau bilang apa dan mau pake kata apa. Coba sekarang kita perhatikan kalimat ini : "gimana keadaannya? apa dia masih meninggal?" coba rasakan, ada yg aneh ngga dengan kalimat itu. Pasti! Harusnya kan "apa dia sudah meninggal?". Kalo misalnya yg baca tuh kalimat orang yg serius+temperamental, yakinn dehh...bisa2 dia ngiranya yg ngomong kurang ajar banget! Yg namanya meninggal kan sesuatu yg terjadi di akhir. Orang pasti hidup dulu, baru meninggal..atau sakit dulu baru meninggal. Kalau misalnya mau pake kata "masih", tetapi ragu-ragu dengan keadan orang itu sedang hidup ataukah meninggal, ya tinggal bilang aja "apa dia masih hidup?" atau ngga usah dijelaskan keadaan orangnya [hidup,meninggal,sakit,sehat,dsb.]. So, cukup bilang aja "gimana keadaannya?". Begitu juga sama anehnya dengan kalimat ini : "gimana keadaannya? apa dia sudah hidup?".
Lain halnya dengan kejanggalan penyusunan kata, ini masalah penggunaan kata yg berkaitan dengan sopan santun. Karena saya orang Jawa, jadi saya angkat saja contoh tata krama berbahasa di Jawa. Saya akan kasih kata kunci dasarnya. Di Jawa pada umumnya, ada 3 jenis penggunaan tatakrama berbahasa yaitu ngoko, krama, dan krama alus tapi sebenarnya ngoko dan krama tersebut masih dibagi lagi yaitu ngoko lugu dan ngoko alus dan krama lugu dan krama alus. Saya di sini ngga akan membahas satu-persatu soalnya bisa dilihat di pepak bahasa Jawa. Saya cuma mau membuktikan kalo menggunakan kata-kata emang harus pake perasaan. Di Jawa untuk berbicara kepada orang yg lebih tua [ex:bapak,ibu,kakek,nenek] ato orang yg terhormat [ex:guru,pejabat,dsb] harus pake krama alus[bahasa krama yg paling alus]. Contoh jika pengen bicara dengan bapak: "Bapak menapa dereng sare siang?" [red.Bapak apa sudah tidur siang?]. Coba bedakan dengan kalimat ini: "Bapak opo urung turu awan?". Untuk kalian yg Jawa tulen,pasti bisa ngrasain gimana rasanya kalo kalian ngomong sama bapak kalian pake kalimat yg ke-2??? Pasti rasanya aneh+GJ+kurang ajar banget kan ??? Itu contoh yg ada kaitannya dgn ketatabahasaan.
Apalagi kalo dikaitkan dengan saat kita mau menyatakan perasaan kita kepada orang yg kita sayangi. Ungkapan perasaan itu pastilah diungkapkan dengan kata-kata, itu sih pada umumnya. Ada juga yang melalui tulisan, sms, dsb, tapi itu kan ya tetep diungkapkan dengan kata-kata [sama aja!]. Gak mungkin lah, yaaa mungkin ada tapi jarang banget ungkapan sayang tsb diungkapkan dengan gerakan,simbol2, ato sandi [kecuali orang yg tuna]. Tanpa kata-kata,perasaan itu pasti sangat sulit dipahami sama orang yg dituju. Kasian kannn...kalo buat ngerti apa maksud orang yg mau ngungkapin perasaan itu harus buka Google dulu..Tapi ingat, kadang apa yg dikatakan orang itu ngga sesuai sama isi hatinya. So, perlu hati-hati juga sama omongan orang, jangan sampe kalian malu gara-gara dikatain "kena bisanya ular berbisa". :-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar